mANUSIA

Manusia memang semakin kurang ajar. Entah karena merasa dirinya paling benar, atau karena dari peradaban jutaan tahun merasa dapat menentukan kebenaran itu sendiri. Kemanusiaan, persamaan derajat, hak asasi manusia, kebebasan, kemerdekaan. Semua itu adalah topeng manusia untuk menciptakan kebenarannya sendiri. Berdasarkan apa? Hati nurani? Perasaan? Tapi dengan penuh kemunafikan, sesungguhnya juga dengan nafsu dan ego yang mereka tutup-tutupi. Dasar sok pintar.

Pagi hari ini saya membaca harian Media Indonesia(21 November 2006). Hmm…, benar- benar ramai, halaman utama dipenuhi dengan berita mengenai kedatangan George W. Bush ke Bogor kemarin. Orang sok pintar yang merasa dirinya sebagai Robocop, polisi dunia. Pro-kontra menyikapi kedatangannya masih saja terus diributkan. Walau pada kenyataannya kita semua tahu, pada saat ini, walaupun seandainya kita sangat ingin melakukannya, kita belum punya cukup kekuatan untuk menghancurkan Bush dan kekuasaannya. Si Pembantai Seribu -bahkan jutaan- Nyawa itu kini dianggap sebagai VVIP di negara kita. Sebaliknya, dengan penuh ironi, sekarang kita bergantung kepada dirinya. Entah apa yang sedang dipikirkan Pak SBY sekarang, ini pasti sebuah dilema yang berat, tidak seperti demonstran yang dengan enaknya bisa teriak ‘Hentikan Bush!’ di luar sana, tanpa memikirkan apa jadinya. Memang ini menyedihkan, tapi kalau kita begitu saja ‘menyerang’ Bush, justru itu adalah tindakan bunuh diri, kan? Oke-lah, sekarang kita belum bisa berbuat apa- apa, bagaimana kalau sekarang kita perbaiki dulu kondisi negara kita, perkuat pertahanan, tingkatkan ekonomi dan pendidikan, setelah itu, setelah punya cukup kekuatan, baru kita teriakkan dengan enak ‘Anti Amerika!’. Tidak apa-apa kalau seandainya kita disebut bangsa yang tidak tahu diuntung, atau tidak tahu terima kasih, toh yang kita lawan memang penjahat. Yang penting penjahatnya ditumpas, tidak apa- apa memanfaatkannya terlebih dahulu.

Kemudian saya melanjutkan membaca harian itu. Di halaman Humaniora, lagi- lagi saya temukan satu orang sok pintar. Namanya Nawal el Sadawi, seorang nenek tua berumur 75 tahun. Dia menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Internasional Ke-7 Perempuan Penulis Drama. Dia berbicara banyak mengenai ‘membuka jilbab pikiran, identitas agama, dan perlunya memisahkan agama dari negara.
Dia berkata dengan penuh percaya dirinya, bahwa dia sudah mempelajari Al-Quran, dan mengatakan bahwa Islam tidak pernah mewajibkan wanita memakai jilbab.
“Semua isu tentang jilbab adalah hal politis. Perempuan di Prancis, Mesir, Indonesia, Inggris, semua bicara tentang jilbab, lalu kenapa? Apa yang salah dengan kepala perempuan? Menutup bagian bawah tubuh, itu masuk akal. Di Afrika, orang- orang telanjang karena di sana panas. Jadi, pakaian tidak memiliki agama. Orang yang mengatakan bahwa jilbab itu Islam, mereka tidak mempelajari Islam, Itu intinya” Ujarnya.
———–Hallooooo….Grandma??!!  too much alcohol??

Menyedihkan sekali, seorang aktivis pembela kesetaraan gender berbicara seperti itu. Saya ingin sekali bertanya, apa agama yang dia peluk? Kenapa dia segitu bencinya dengan jilbab? Bahkan sampai mengatakan kalau semua ini adalah sebuah ‘pencucian otak’. Ingin sekali memisahkan agama dari negara, tahukah Anda, bahwa dalam Islam, hukum negara adalah bagian dari peraturan agama. Itu artinya, peraturan agama bukan cuma tentang ritual, tapi juga kenegaraan. Rasulullah SAW, juga adalah seorang negarawan. Yang benar saja, sudah mempelajari Islam, katanya? What the…

Begitulah, manusia menciptakan kebenarnnya sendiri. Terlalu mempercayai dirinya sendiri, dan kepercayaan itu melalmpaui kepercayaannya kepada Tuhan. Durhaka sekali. Hal ini seringkali disinggung dalam khutbah Jumat di Masjid, bahwa manusia memang sudah melampaui batas. Sok pintar. Merasa dirinya lebih pintar dari Tuhan.

Leave a Reply