Archive for December, 2006

The 7 Spell of Spelcaster (Part2)

Saturday, December 16th, 2006

Spell of The Distance

just light
just light
with its speed
we won’t crumble
bring us there
bring us there
promise your reason
for keeping my one
i feel so close
i feel so close to you
i am your pillow when you sleep
i am your blanket when you’re cold
i am the floor you step on
i am your scarf
i am your clothes
i am your lipstick
i am your soap
i will soon be the ring at your finger
i sleep next to you
i awake close to you
i walk behind you
i speak inside you
i am your dream
i am so close to you
i murder the distance
i assassinate the long-road
i live around you
and within you

Spell of The Circle

you have drawn a circle over me
drawn a circle in my heart
shall no doubt tear us apart
cause the circle can never be erased

Melacurkan Seni

Thursday, December 14th, 2006

Pernah liat salah satu episode Mr.Bean, dimana dalam episode itu Mr.Bean sedang mengikuti sebuah kelas seni, kelas melukis tepatnya? Singkatnya, diceritakan saat sang instruktur memasang model wanita telanjang untuk dilukis, Mr.Bean menolak untuk melukisnya, bahkan menolak untuk melihatnya. Tidak begitu penting apa alasannya, tapi kita lihat sisi positif dari Mr.Bean, dia adalah sebuah tokoh yang dianggap jenaka, atau lebih tepatnya dungu. Sekilas terlihat seperti orang dengan kelainan mental, tapi ia adalah tokoh yang sangat (kalau tidak mau dibilang super) kreatif. Mungkin ia layak dibilang jenius. Orang yang dasarnya pemalas, tapi tidak pernah menyerah ketika ia menghadapi suatu masalah (yang selalu ia selesaikan dengan ide kreatifnya).

Oke, kembali ke masalah wanita telanjang. Timbul pertanyaan, mengapa melukis wanita telanjang dianggap sebuah tindakan seni? Tentu saja, saya mengerti bahwa ada kepentingan untuk mempelajari anatomi tubuh manusia. Tapi apakah layak disebut seniman orang yang melukis wanita telanjang di depan matanya? Sangat jelas ini berbeda saat Anda menggambar objek secara langsung… yang berupa hewan, kuda atau sapi misalnya. Tapi menempatkan seorang wanita (ataupun laki-laki) telanjang sebagai objek, bukankah itu sama saja dengan menyamakannya dengan kuda atau sapi? Anda tidak bisa berpikir bahwa objek manusia sama saja dengan objek binatang karena teori Darwin atau teori apapun, sebab manusia yang melukis manusia telanjang di hadapannya hanya bisa disamakan dengan seekor kuda yang menggambar kuda telanjang di hadapannya.

Manusia tidak bisa disamakan dengan binatang, terlebih karena saya yang menulis tulisan ini adalah sama-sama manusia. Tubuh utuh manusia, laki- laki atau perempuan, adalah hak pribadi. Adalah daerah suci dan sakral. Entah Anda beragama apapun, sebagian besar dari Anda pasti menemukan hal ini dalam ajaran agama Anda.

Dengar, untuk para seniman. Seberapa pentingkah arti seni bagi kalian? Apakah sebegitu pentingnya sampai harus meruntuhkan harga diri dan kehormatan kita sebagai manusia? Lalau bagaimana dengan perasaan wanita telanjang yang dijadikan model itu? Apakah dia merasa dirinya sebagai seorang abdi seni, yang mengalir di urat nadinya dan di pori-pori kulitnya keindahan seni dan estetika? Atau tak lebih dari seorang pelacur? Akui saja, ternyata banyak seniman di dunia ini yang sudah buta. Mereka dibutakan oleh kata ‘seni’. Satu kata yang digunakan untuk melegalkan apapun. Satu kata sandi yang dibutuhkan untuk menyingkirkan moral dan susila dari hati seorang seniman. Seni yang didewakan, dipertuhankan, yang direlakan untuk membiaskan eksistensi manusia yang suci. Para seniman itu telah melacurkan diri mereka, atau lebih tepatnya telah melacurkan kata ‘seni’ itu sendiri.

Saya adalah mahasiswa yang belajar seni di fakultas seni rupa di sebuah institut. Tidak peduli apakah saya akan jadi seniman atau tidak, tapi jika seni yang ada hanya meruntuhkan kehormatan dan eksistensi manusia, saya tak akan pernah ragu untuk melemparkan ‘seni’ ke dalam keranjang sampah. Lagipula itu bukan sesuatu yang benar- benar berharga, anyway.